Search This Blog

Senin, 21 Januari 2013

Karya Tulis Ilmiah berjudul "Pengaruh Didikan Orang Tua terhadap Anak"

Diposting oleh Unknown di 01.15 0 komentar

PENGARUH DIDIKAN ORANG TUA TERHADAP ANAK
(Disusun sebagai salah satu syarat kelulusan siswa SMP Negeri 3 Balikpapan)











Disusun oleh :
Devika Safitri .D.
Kelas : IX E
NISN : 9985412761


SMP NEGERI 3 BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2012/2013
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penulisan                 : Pengaruh Didikan Orang Tua terhadap Anak
Nama                                 : Devika Safitri Dirgayanti
Tempat Tanggal Lahir       : Balikpapan, 30 Januari 1998
Jenis Kelamin                    : Perempuan
NISN                                : 9985412761
Mata Pelajaran                  : Bahasa Indonesia
Sekolah                             : SMP Negeri 3 Balikpapan
Alamat Sekolah                 : Jl. Soekarno Hatta Km 1,5 Kelurahan Gunung Samarinda, Kecamatan Balikpapan Utara


Balikpapan, 10 Januari 2013
Guru Mata Pelajaran                                                                                           Penulis



Siti Halimah S.Pd                                                                                        Devika Safitri .D.
NIP : 196601212007012015                                                                       NISN : 9985412761


KATA PENGANTAR
          Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Pengaruh Didikan Orang Tua terhadap Anak”. Meskipun banyak hambatan yang penulis alami dalam proses pengerjaannya, tapi penulis berhasil menyelesaikan dengan baik.
            Karya tulis ini dibuat untuk memenuhi syarat untuk ketuntasan nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dibina oleh Ibu Siti Halimah, S.Pd. Karya tulis ini dimaksudkan untuk melatih para siswa agar dapat membuat karya tulis yang lebih baik di jenjang pendidikan selanjutnya.
            Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, khususnya kepada :
1.      Ibu Supriyani selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Balikpapan serta segenap jajarannya yang telah memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril maupun materiil selama mengikuti pendidikan di SMP Negeri 3 Balikpapan.
2.      Bapak Ishaq selaku Wali Kelas IX E SMP Negeri 3 Balikpapan.
3.      Ibu Siti Halimah selaku Guru Mata Pelajaran yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan karya tulis ilmiah ini.
4.      Keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi, bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis, baik selama mengikuti pelajaran maupun dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
5.      Teman-teman semua di SMP Negeri 3 Balikpapan khususnya Karina Olivia Dewi Sekarini, Monica, Alicia Christine.
            Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi masa kini maupun masa yang akan datang. Penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini, masih terdapat kekurangan. Maka dari itu penulis mohon kritik dan sarannya. Sekian dan terima kasih.
Balikpapan, 10 Januari 2013
                                                                                                                      
                                                                                              Penulis



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………........  i
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………….. ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….  iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………….  iv
BAB I       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ……………....…………………………………..................    1
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………………...  1
C.     Manfaat ……………………………………………………………………...  2
BAB II     KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Orang Tua ………………....………………………………...….   3
B.     Pengertian Anak …………………………………………………………….  3
C.     Pengertian Pola Asuh ……………………………………………………….   4
BAB III    PEMBAHASAN
A.    Cara orang tua dalam memahami perilaku seorang anak sebagai siswa……     5
B.     Pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak ……………........    5
C.     Pengaruh orang tua terhadap pendidikan anak remaja ……………………..   8
D.    Peranan orang tua dalam mendidik anak ……………………………….......   9

BAB IV    PENUTUP
A.    Kesimpulan …………………………………………………………………   13
B.     Saran ………………………………………………………………………..   13

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………..  14
LAMPIRAN ……………………………………………………………………………….   15




BAB I
 PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Pendidikan tidak hanya bisa diperoleh dari lembaga formal tapi bisa juga lewat pendidikan non formal. Anak atau bayi yang baru lahir pun ternyata sudah mengenyam pendidikan yaitu menangis. Menangis adalah sebuah bukti bahwa berfungsinya jasmani serta rohani bayi tersebut. Ketika umur mereka bertambah, mereka akan memperoleh pendidikan melalui sekolah. Disana anak-anak akan belajar banyak dari guru, teman-teman maupun lingkungan sekolah mereka. Meskipun anak-anak telah bersekolah, orang tua tak lantas melepaskan tanggung jawabnya untuk tetap mengawasi pergaulan anaknya dan membimbing serta mendampingi anaknya ketika belajar di rumah.
Peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan prestasi belajar anak. Orang tua hendaknya selalu memperhatikan prestasi anaknya di sekolah. Jangan lupa bertanya tentang apa saja yang anaknya lakukan di sekolah, bagaimana dengan pelajaran-pelajarannya di sekolah, apakah menemui kesulitan atau tidak, dan lain-lain.
Tidak sedikit pula banyak kasus yang muncul bahwa keberhasilan belajar atau prestasi seorang anak juga sangat dipengaruhi oleh bimbingan orang tua. Ketika orang tua senantiasa mengontrol proses kegiatan belajar anaknya, maka akan timbul di dalam diri anak tersebut sebuah motivasi positif yang dapat mendorong untuk rajin belajar. Anak tersebut juga tidak akan merasa sendirian dalam menanggung beban pelajaran dan tugas sekolah karena disamping mereka selalu ada orang tua yang mendampingi mereka.Betapa pentingnya peran orang tua dalam menunjang keberhasilan seorang anak.
B.   Rumusan Masalah

1.      Bagaimana cara orang tua dalam memahami perilaku seorang anak sebagai siswa?
2.      Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak?
3.      Bagaimana pengaruh orang tua terhadap pendidikan anak remaja?
4.      Bagaimana peranan orang tua dalam mendidik anak?


C.    Manfaat
Manfaat karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1        Memberikan arahan kepada para orang tua dalam memahami perilaku anak
2        Mengetahui pengaruh pola asuh dan contoh-contoh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak
3        Dapat mengetahui peranan orang tua dalam mendidik anak




















BAB II
 KAJIAN TEORI
A.      Pengertian Orang Tua

Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
·      Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan.
·      Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar.
·      Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.
B.      Pengertian Anak

Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri ).
Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya.
Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak.
Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah Allah SWT yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh Allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka Allah SWT memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaran-Nya

C.  Pengertian Pola Asuh Anak

Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara. Sedangkan asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari terminology, pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negative atau positif.









































BAB III

PEMBAHASAN

A.       Cara orang tua dalam memahami perilaku seorang anak sebagai siswa

Orang tua secara tidak langsung akan melepaskan seorang anak ketika anak tersebut langsung akan melepaskan pendidikan di sekolah. Keluarga sebagai tempat pendidikan yang pertama dan utama telah mulai ditinggalkan seorang anak meskipun tidak sepenuhnya. Ketika seorang anak mulai terjun ke bangku sekolah, maka ia sudah mulai mengenal pendidikan di dalam sekolah. Yang dimaksud pendidikan disini adalah upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan atau usaha untuk menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar dapat mandiri, menjadi akil baligh, dan bertanggung jawab secara susila dan sikap bertanggung jawab.
Secara garis besar manusia terdiri atas dua aspek, yaitu aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani meliputi antara lain tinggi dan besar badan, panca indera, anggota badan, kondisi dan peredaran darah, dan lain-lain. Aspek rohani meliputi kecerdasan, bakat, kecakapan hasil belajar, sikap, minat, motivasi, emosi dan perasaan, watak, kemampuan sosial, dan lain-lain. Berdasarkan aspek-aspek itulah orang tua hendaknya bisa memahami kondisi anak yang sudah bersekolah. Tidak jarang pula banyak anak yang kadang jenuh atas beban-beban tugas sekolah yang ia hadapi. Disinilah peran orang tua sangat penting untuk memberikan semangat dan mengembalikan gairah untuk belajar. Misalnya saja ada contoh, ketika seorang anak sedang mengamuk atau emosional yang mungkin dikarenakan oleh beban tugas-tugas sekolah, orang tua tak lantas ikut mengamuk kepada anak tersebut. Akan tetapi orang tua hendaknya membiarkan anak tersebut sebentar agar dia bisa menenangkan dirinya dan setelah itu tanyalah secara baik-baik apa yang sebenarnya menyebabkan si anak tersebut tiba-tiba mengamuk.

B.        Pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak
Pendidikan merupakan jalan utama menuju kesuksesan berjalannya norma-norma dimasyarakat. Sehingga kedewasaan sesorang didalam masyarakat dapat menjadi panutan atau pendidik, sebab melalui pendidik keberhasilan perkembangan anak untuk mampu berfikir fositif dalam melihat, bicara dan menaggapi sesuatu dalam setiap kondisi. Sebab pendidik adalah salah satu perbuatan social yang mampu menghipnotis objek didikan. Untuk itu peran kita sebagai keluarga, masyarakat, pemerintah dan seluruh lembaga informasi turut bertanggung jawab atas keberhasilan atau keterpurukan pendidikan para generasi baru kita. Peran penting kita setiap warganegara Indonesia
dalam melestarikan pendidikan yang beradab haruslah dilestarikan sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya.
Namun seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan yang terdekat adalah keluarga, sebab sehebat apapun kita dalam mendidik anak hingga mampu membayar mahal demi kesuksesan pendidikan anak-anak kita tetap tak terlepas dari peran orang tua atau keluarga dalam proses perkembangannya. Karena pada dasarnya anak akan tetap melirik kepada siapa keluarganya, darimana dia, untuk apa dia dan mau kemana dia ditempatkan oleh orang tuannya atau keluarganya. Sementara lingkungan masyarakat, sekolah atau lembaga informasi sebagai perangsang saja dalam pembentukan karakter anak-anak kita. Namun pada dasarnya orang tua atau keluargalah yang berperan aktif.
Fungsi keluarga / orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :
·      Orang tua bekerjasama dengan sekolah
·      Sikap anak terhadap sekolah sangat di pengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan   kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.
·      Orang tua harus memperhatikan  sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan   menghargai segala usahanya.
·      Orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar   di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi   dan membimbing anak dalam belajar.
·      Orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak
·      Orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani   proses belajar di lembaga pendidikan.
Orang tua/ keluarga adalah kunci awal pendidikan dan pembentukan karakter anak sebab orang tualah yang terdekat dengan anaknya ketika berada dirumah dan pasti setiap orang tua sangat menginginkan pendidikan yang terbaik dengan cara apapun yang dapat membuat anak mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang terbaik dapat bermanfaat dalam membentuk karakter keluarga, agama dan bangsa . Untuk itu bagi para orang tua demi terwujudnya keinginan itu diperlukan pola dalam mengasuh dan mendidik buah hati sebab hanya dengan pola yang terbaik dan cocok untuk karakter si anaklah yang akan membuahkan hasil.
Contoh pola-pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak :
1. Pola asuh Otoritative (Otoriter)
·         Cenderung tidak memikirkan apa yang terjadi di kemudian hari, fokus lebih pada masa kini.
·         Untuk kemudahan orang tua dalam  pengasuhan.
·         Menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua.

Efek pola asuh otoriter terhadap perilaku belajar anak :
·         Anak menjadi tidak percaya diri, kurang spontan  ragu-ragu dan pasif, serta memiliki masalah konsentrasi dalam belajar.
·         Ia menjalankan tugas-tugasnya lebih disebabkan oleh takut hukuman.
·         Di sekolah memiliki kecenderungan berperilaku antisosial, agresif, impulsive dan perilaku mal adatif lainnya.
·         Anak perempuan cenderung menjadi dependen
2.   Pola asuh Permisive (Pemanjaan)
     Segala sesuatu terpusat pada kepentingan anak, dan orang tua/pengasuh tidak berani menegur, takut anak menangis dan khawatir anak kecewa.
Efek pola asuh permisif terhadap perilaku belajar anak  :
·      Anak memang menjadi tampak responsif dalam belajar, namun tampak kurang matang (manja), impulsive dan   mementingkan diri sendiri, kurang percaya diri (cengeng) dan mudah menyerah dalam menghadapi hambatan atau kesulitan dalam tugas-tugasnya.
·      Tidak jarang perilakunya disekolah menjadi agresif.
3. Pola asuh Indulgent (Penelantaran)
·      Menelantarkan secara psikis.
·      Kurang memperhatikan perkembangan psikis anak.
·      Anak dibiarkan berkembang sendiri.
·      Orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri karena kesibukan.
Efek pola asuh indulgent terhadap perilaku belajar anak :
·      Anak dengan pola asuh ini paling potensial telibat dalam kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba,  merokok   diusia dini dan tindak kriminal lainnya.
·      Impulsive dan agresif serta kurang mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas atau kegiatan.
·      Anak memiliki daya tahan terhadap frustrasi rendah.
4. Pola  asuh Autoritatif (Demikratis)
·Menerima anak sepenuh hati, memiliki wawasan kehidupan masa depan yang dipengaruhi oleh tindakan-tidakan masa kini.
·      Memprioritaskan kepentingan anak, tapi tidak ragu-ragu mengendalikan anak.
·      Membimbing anak kearah kemandirian, menghargai anak yang memiliki emosi dan pikirannya sendiri

Efek pola asuh autoritatif terhadap perilaku belajar anak:
·      Anak lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri dan memiliki kemampuan introspeksi serta pengendalian diri.
·      Mudah bekerjasama dengan orang lain dan kooperatif terhadap aturan.
·      Lebih percaya diri akan kemampannya menyelesaikan tugas-tugas.
·      Mantap, merasa aman dan menyukai serta semangat dalam tugas-tugas belajar.
·      Memiliki keterampilan sosial yang baik dan trampil menyelesaikan permasalahan.
·      Tampak lebih kreatif dan memiliki motivasi berprestasi.
Pola Asuh anak pada masa usia dini sangat penting dalam memberikan landasan dasar untuk tumbuh kembangnya dasar-dasar pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan pada anak. Menerapkan pola asuh yang sangat efektif adalah suatu keharusan, sebab anak tidak hanya terlahir sebagai anugerah terindah dari sang pencipta yang hidup tanpa ada aturan yang tepat buat si anak melainkan tanggung jawab orang tua sampai anak beranjak dewasa juga harus difikirkan, untuk itu orang tua sebagai pendidik yang terdekat kepada si anak sebaiknya mencari cara yang tepat pula dalam mendidik buah hatinya. Dengan mengetahui bagaimana pola dalam mengasuh anak maka akan menjadikan orang tua lebih bijaksana dalam membesarkan anak-anaknya. Permasalahan yang anak-anak  dapatkan ketika disekolah dan pada saat bermain dengan teman-teman mereka dapat dihindari dengan lebih baik dan bijaksana ketika orang tua memahami karakter anak  dan pola asuh yang orang tua gunakan sejak dini.
C.    Pengaruh orang tua terhadap pendidikan anak remaja
Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak berbuat lebih baik dari waktu ke waktu ketika orang tua mereka ikut terlibat dalam pendidikan anak di sekolah. Akan tetapi hal itu tidak banyak berubah manakala anak-anak telah menjadi seorang remaja.
Sekali anak kita masuk pendidikan menengah, peran orang tua harus berubah dalam membuat aturan pendidikan mereka. Bagaiamanapun, bentuk perhatian yang biasa dilakukan orang tua ketika sang anak masih duduk dibangku sekolah dasar, akan sulit untuk bisa diterima ketika anak telah masuk jenjang pendidikan menengah. Bahkan, banyak remaja yang kemungkinan akan memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang memalukan.
Namun demikian, masih ada cara lain dimana orang tua bisa tetap aktif terlibat dalam pendidikan para remaja melalui perpanjangan tangan orang tua di sekolah, seperti bergabung dengan Dewan Sekolah, Forum orang Tua Siswa, dan lembaga sejenis yang ada di sekolah untuk memberi fasilitas keterlibatan para orang tua.
Pada tingkat yang lebih spesifik, ada tempat penting bagi orang tua bagi anak sekolah remaja mereka di rumah, kata pendidik Prof.. Dr. Allison Preece, “Kita bisa mensupport anak-anak belasan tahun dan anak remaja kita ketika mereka mulai memasuki jenjang pendidikan SMP atau SMA melalui cara yang bisa dilakukan ketika mereka masih muda, yakni dengan tetap menjaga terbukanya jalur komunikasi.



Kita bisa berbicara dengan mereka tentang apa yang mereka rakan, apa yang mereka alami, ikut menikmati dan berjuang dengan mereka.”
Ahli psikologi pendidikan Dr. Ouida Wright setuju bahwa dukungan di rumah merupakan bagian penting dari keberhasilan seorang remaja di sekolah. “Apa yang mereka (remaja) perlukan adalah kondisi lingkungan rumah, lingkungan yang memberikan rasa ketertarikan tentang apa yang mereka lakukan di sekolah dan memberikan dukungan untuk setiap kegiatan atau aktifitas lain di sekolah.”
Dr Wright juga menambahkan bahwa mempertahankan komunikasi antara anak Anda dan guru juga hal yang penting. “Jika ada suatu pertemuan baik di rumah guru atau sekolah, sarankan mereka ikut hadir. Hal seperti ini pada tingkat pendidikan menengah adalah sama pentingnya dengan di tingkat dasar, mencerminkan tugas sekolah para siswa,” kata Wright.
Akhirnya, Dr Preece mengatakan, “Salah satu kesulitan yang sering mereka alami adalah masalah manajemen waktu. Tiba-tiba saja mereka memiliki guru yang berbeda, cara mengajar yang berbeda, dan tugas rumah yang lebih banyak. Salah satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah membantu mereka membuat rencana dengan berdiskusi dengan mereka mengenai bagaimana menurut mereka untuk menangani hal-hal tersebut, daripada sekedar menetapkan waktu kapan mereka harus melakukannya. Hal ini bisa sangat positif dan memberi tanggung jawab pada mereka, di sisi lain memberi isyarat bahwa mereka mendapat dukungan kita dan kita akan membantu mereka dengan pengaturan waktunya.”


D.    Peranan orang tua dalam mendidik anak
1.   Peran Keluarga Dalam Mewujudkan Kepribadian Anak 
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki Pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat. Ayah dan ibulah yang harus melaksanakan tugasnya di hadapan anaknya. Khususnya ibu yang harus memfokuskan dirinya dalam menjaga akhlak, jasmani dan kejiwaannya pada masa pra kehamilan sampai masa kehamilan dengan harapan Allah memberikan kepadanya anak yang sehat dan saleh. Faktor-faktor ini secara terpisah atau dengan sendirinya tidak bisa menentukan pendidikan tanpa adanya yang lainnya, akan tetapi masing-masing saling memiliki andil dalam menentukan pendidikan dan kepribadian seseorang sehingga jika salah satunya tidak banyak dipergunakan maka yang lainnya harus dipertekankan lebih keras. 




Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:
·         Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih.
·         Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.
·         Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting.
·         Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak). Dengan melihat keingintahuan fitrah dan kebutuhan jiwa anak, mereka selalu ingin tahu tentang dirinya sendiri. Tugas kedua orang tua adalah memberikan informasi tentang susunan badan dan perubahan serta pertumbuhan anak-anaknya terhadap mereka. Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-hukum fikih serta kehidupan manusia. Jika kedua orang tua bukan sebagai tempat rujukan yang baik dan cukup bagi anak-anaknya maka anak-anak akan mencari contoh lain; baik atau baik dan hal ini akan menyiapkan sarana penyelewengan anak.
Hal yang paling penting adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu-satunya teladan yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan kepribadian, begitu juga anak secara tidak sadar mereka akan terpengaruh, maka kedua orang tua di sini berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada tataran teoritis maupun praktis. Ayah dan ibu sebelum mereka mengajarkan nilai-nilai agama dan akhlak serta emosional kepada anak-anaknya, pertama mereka sendiri harus mengamalkannya.




2.      Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak

Anak adalah titipan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena itu nasib dan masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kita semua. Tetapi tanggung jawab utama terletak pada orang tua masing-masing. Orang tualah yang pertama berkewajiban memelihara, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya agar menjadi manusia yang berkemampuan dan berguna. Setelah seorang anak kepribadiannya terbentuk, peran orangtua selanjutnya adalah mengajarkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah merupakan pendidikan yang akan selalu berjalan seiring dengan pembentukan kepribadian anak tersebut. Proses pendidikan bagi generasi muda mempunyai tiga pilar penting. Ketiga pilar itu, sekolah, masyarakat dan keluarga. Pengertian keluarga tersebut nyata dalam peran orang tua. Pola penyelenggaraan pendidikan nasional mengakibatkan ketiga pilar penting terpisah. Sekolah terpisah dari masyarakat atau orang tua. Peran orangtua terbatas pada persoalan dana. Orang tua dan masyarakat belum terlibat dalam proses pendidikan menyangkut pengambilan keputusan monitoring, pengawasan dan akuntabilitas.Akibatnya sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada orangtua. 
Anak merupakan masa depan bagi setiap orangtua. Pada usia balita, anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang dan perhatian orang tuanya seringkali pemurung, labil dan tidak percaya diri. Ketika menjelang usia remaja kadang-kadang mereka mengambil jalan pintas, dan minggat dari rumah dan menjadi anak jalanan. Kesibukkan orang tua yang berlebihan, terutama ibu, menyebabkan anak kehilangan perhatian. Seorang ibu yang berkarir di luar rumah misalnya dan karirnya banyak menghabiskan waktu, lebih banyak menghadapi masalah kekurangan interaksi ini. Bisa dibayangkan, bila dalam sehari ibu hanya punya waktu paling banyak 2 – 3 jam bertemu dengan anak. Anak lebih dekat dengan pengasuh atau pembantunya. Pada faktanya televisi tidak mampu menjadi orang tua yang baik, karena acara-acara yang ditayangkan tidak semuanya baik. Masih ada film anak-anak yang kurang mendidik dan terkesan merangsang anak melakukan tindakan destruktif yang diputar di stasiun televisi di Indonesia. televisi tidak begitu baik untuk masa depan pendidikan anak-anak masa kini. Karena masa depan anak itu dilihat dari pendidikan yang diberikan orantua sejak dini. Dengan memberikan pendidikan yang setinggi-tingginya, semua hidup anak-anak akan berjalan mulus, pendidikan anaklah setir kehidupan. Dan juga pendidikan masih merupakan investasi yang mahal.





 Peran orang tua dalam pendidikan mempunyai peranan besar terhadap masa depan anak. Sehingga demi mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka sebagai orangtua harus berusaha untuk dapat menyekolahkan anak sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi adalah salah satu cara agar anak mampu mandiri secara finansial nantinya. Sebagai orangtua harus sedini mungkin merencanakan masa depan anak-anak agar mereka tidak merana. Masa anak-anak merupakan masa transisi dan kelanjutan dalam menuju tingkat kematangan sebagai persiapan untuk mencapai keremajaan. Ini berarti kemajuan perkembangan yang dicapai dalam masa anak-anak merupakan bekal keberhasilan orang tua dalam mendidiknya. Baik buruknya sikap dan tingkah laku seseorang di masa anak-anak, sangat banyak ditentukan oleh pengalaman mereka dalam melihat orang-orang disekitarnya terutama kedua orangtuanya. Itu semua merupakan bekal pendidikan bagi anak-anak nantinya.Di sisi lain, anak-anak adalah generasi yang memiliki sejumlah potensi yang patut dikembangkan dalam kegiatan pendidikan serta kreatifitas mereka. Anak-anak mempunyai karakteristik antara lain pertumbuhan fisik yang cepat dan matang. semua potensi anak tersebut akan bermakna apabila dibina dan dikembangkan secara terarah sehingga mereka menjadi manusia yang memiliki keberdayaan. Tanpa bimbingan yang baik semua potensi itu tidak akan memberikan dampak positif, bahkan bisa terjadi hal yang sebaliknya yaitu menimbulkan berbagai masalah dan hambatan. Apalagi jika melihat ke depan, tantangan globalisasi makin besar, maka pembinaan pendidikan terhadap anak pun harus semakin dikuatkan. Anak-anak harus berorientasi terhadap pandangan hidup yang bersifat positif dan aktif serta wajib menentukan dirinya sendiri, mementingkan kepuasan dari pekerjaan yang dilakukannya, berorientasi ke masa depan dan belajar merencanakan hidup secermat mungkin. Pendidikan merupakan sesuatu yang perlu mendapatkan prioritas. 
Di sinilah tanggung jawab orang tua untuk bisa memilah lembaga pendidikan yang baik bagi putra-putrinya dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, melalui perencanaan keuangan pendidikan. Saat ini banyak lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan dan asuransi yang menawarkan produk berupa tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan. Bisa sejak dari kandungan, buaian, usia balita ataupun di atasnya, agar anak terbiasa dengan hal-hal yang positif. Di sini peran orang tua sangat penting dalam memberikan sifat-sifat apektif pada anak dan tidak semata kognitif saja.









BAB IV

PENUTUP


A.    Kesimpulan

      Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan, bahwa orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Tidak ada yang bisa membantu anak untuk berhasil tanpa adanya keterlibatan peran orang tua. Pola asuh orang tua juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan, Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar.

B.     Saran

      Saran dari kami yang dapat dikutip dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
  • Hendaknya orang tua tidak egois, yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar, karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya.
  • Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya.
  • Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak, maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak.
  • Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik
  • Seharusnya para orang tua memberikan perhatian lebih kepada anak tentang pendidikan mereka.






DAFTAR PUSTAKA


-          Idris,Meity H.2012. Pola Asuh Anak,Jakarta:Luxima














LAMPIRAN
Gambar perhatian orang tua tentang pendidikan anaknya :





















Gambar orang tua sedang mengajari anaknya :

                                                                                   
                                                                             







                             
                                                                                   

                                                                                   








Gambar orang tua saat memarahi anaknya :








                                                                       









           
                       



videokeman mp3
Jason Mraz (ft.Colbie Caillat) - Lucky
 

It's My World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea