Aku,
Kita, 8D
Ceritaku
di mulai pada saat awal masuk sekolah setelah liburan untuk kenaikan kelas.
Hari itu banyak anak-anak yang memakai baju putih-merah. Karena mereka akan
menjalani MOS yang diselenggarakan selama 3 hari. Hal itu bertujuan untuk lebih
mengenal dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru(jadi keinget 2 tahun yang lalu). Seneng
juga sih ngeliat anak MOS di kerjain sama kakak kelas, disuruh pake tas karung
lah, topi dari kertas, papan nama dan lain sebagainya. Tapi hari itu aku baru
sadar, bahwa akan diadakan rolling kelas. Rasanya dipisahin sama anak-anak VII
B itu, gak enak banget. Banyak yang kita lakuin bareng-bareng di kelas itu
selama setahun. Dan akhirnya hari ini juga kita di rolling. “Bagi murid-murid
kelas VIII dan IX harap segera ke lapangan basket sekarang juga” terdengar toak
yang berbunyi dari piket. Saat-saat yang menegangkan, saatnya akan diadakan
pembagian kelas. Rasa galau yang bergejolak, menghantui perasaan ku. “Siapakah
orang-orang yang akan sekelas dengan ku ? Apakah mereka akan jadi teman yang
baik?” kataku dalam hati. Diumumkan pembagian kelas VIII A,B,C tidak ada juga
namaku, kelas VIII D ……Devika Safitri . Huhh… ternyata aku kelas VIII D. Siapa
yang akan sebangku sama aku? Ternyata ada temanku dari 7B, namanya Zalfa
Salshabila .K. “Zal, duduk sama siapa?”kataku. “Gak tau” jawab Zalfa. “Yaudah
sama aku aja” balas ku. “Yaudah deh.”balas nya. “Huhh,,, untung aja punya
temen” kataku dalam hati. Aku memang kenal Zalfa dari kelas VII B, tapi gak
terlalu kenal akrab. Yaa mulai ajalah selalu deket sama dia sejak duduk
sebangku.
Pada
saat baru masuk ke kelas VIII D. Wajah-wajah baru ada di hadapanku. Kalau
misalnya aku ketemu sama orang yang gak aku kenal, pasti aku langsung pasang
tampang cuek. Yaa mereka juga cuek. Teman-teman sudah duduk rapi di bangku yang
mereka pilih masing-masing. Aku dan Zalfa memilih bangku yang paling depan biar
paham setiap penjelasan guru di depan kelas. Tinggal menunggu wali kelas kita
untuk memberikan pengarahan tentang kelas VIII D ke depannya. Sambil menunggu,
aku mulai sering ngobrol-ngobrol sama Zalfa. Pas kelas VII, yang ku lihat Zalfa
orang nya agak pendiam ketemu sama aku yang orangnya lumayan rusuh lah, gimana
jadinya ya. Setelah menunggu, orang yang kita tunggu akhirnya datang juga, dia adalah
wali kelas kita. Saya tidak tahu siapa guru itu, dan mengajar pelajaran apa.
Dia mulai mengabsen murid-murid VIII D dan mulai memperkenalkan diri. “Nama
saya Muhammad Natsir, panggil saja Pa’ Natsir”. Guru ini kelihatan cukup galak
dan buanyak banget peraturan yang dia kasih. Dari peraturan yang dibuat sekolah
sampai yang ia buat sendiri. Setelah dia ngoceh mulu, akhirnya kita ngomongin
masalah struktur kelas, jadwal piket, dan lain-lain.
Pembagian struktur kelas, yang
menjadi ketua kelas Ekky Nurwenda, wakil ketua Rizha Susilawaty, gak tau hari
itu aku sial atau apes, aku kepilih jadi sekretaris 1 yang mengurusi absen dan
lain-lain. Aku juga menunjuk Indah sebagai sekretaris 2, karena dia teman SD ku
dan tulisannya juga bagus. Dan bendahara Cut Alda.
Hari
pertama hanya membahas tentang bagian-bagian dari kelas yang harus dikelola.
Jadwal sudah dibagikan dan untuk hari kedua kelas VIII dan IX sudah mulai
belajar. Hari kedua mulailah beradaptasi dengan teman-teman baru. Wah, mereka
ternyata cukup asik juga. Selama seminggu di kelas VIII D, sejauh ini sifat
yang ku kenal dari Zalfa easy going, humoris juga. Di VIII D juga ada yang
bikin kesel salah satunya Pratama. Emang sih dia humoris, tapi kadang-kadang
dia terlalu ribut, susah banget di kasih tau. Dan yang lainnya juga ikut ribut.
Suatu
hari, pada saat pelajaran PKN. Gurunya tidak ada karena ada urusan penting.
Jadi kita dikasih catatan dan tugas untuk dikerjakan supaya kelas tidak ribut.
Karena aku sekretaris, jadi aku yang menulis semua catatan dan tugas yang
diberikan oleh guru. Kupikir mereka juga ikut menulis apa yang aku tulis,
ternyata tidak seperti dugaanku. Mereka malah ngobrol sendiri dan tidak
menulis. Aku merasa tidak dihargai sudah menulis sedemikian banyak, tapi tidak
mereka hiraukan. Hanya beberapa saja yang menulis catatan tersebut. Emosiku
memuncak, aku langsung berkata sambil teriak “ Weh coba jangan ribut. Kalian
punya perasaan gak sih? Aku sudah nulis segini banyak kalian gak nulis. Hargai
dong”. Mereka yang tadinya ribut langsung terdiam dan mulai menulis. Hatiku
cukup lega, mereka bisa ngerti apa yang aku kerjain. Ku pikir di kelas ini aku
akan selalu marah-marah terus karena anaknya yang susah untuk diatur.
Seiring
berjalannya waktu, aku mulai mengenal mereka satu persatu. Mereka ribut karena
hanya ingin mencari hiburan dan kesenangan doang. Agar kelas terasa nyaman.
Lama-kelamaan aku sudah mulai betah di kelas itu. Karena sifat anak-anak VIII
D yang membuat aku betah ada bersama
mereka. Dari kekonyolan, kekompakan, gelak tawa dan kebersamaan dengan mereka
membuat aku merasa bangga ada di kelas itu.
Bukan
hanya teman-teman yang membuat aku nyaman, tapi juga wali kelasku, Pa’ Natsir
yang beda dari wali kelas yang lain. Yang awalnya kulihat dia galak, tapi
ternyata dia itu tegas, bijak, humoris, dan lain-lain. Dia guru olahraga
disekolahku. Pada saat itu, dia jadi penjaga kantin kejujuran(pas dulu masih
ada). Disitulah beberapa anak VIII D sering nongkrong pas jam istirahat. Curhat,ngobrol,
ngelawak sering ketawa-ketiwi yaa pas di KanJur(sebutan dari Kantin Kejujuran).
Aku
dan Zalfa cukup dekat dengan teman sekelas kita yang bernama Febrian, Rizali
dan Agung. Mereka bertiga makhluk yang cukup aneh dan sering melakukan hal-hal
yang kocak. Langsung muncul ide yang terbersit di pikiran Febrian “Kita buat
grup yok?” kata Febrian. “Grup apaan coba?” kataku. “Yaa khusus kita berlima
ini, apa ya namanya?” kata Febrian. “Gimana SOMPLAK aja. Kita kan aneh aneh
gimana gitu?” kata Zalfa. “Oya ya bagus bagus haha” kata Agung dan Rizali
bersamaan.
Mulai saat itulah kita menamakan
grup kami dengan nama “SOMPLAK”. Nama yang cukup aneh, tapi unik. Masing-masing
dari kita mempunyai keunikan masing-masing.
Kelas
VIII memang banyak kegiatan yang dilakukan di luar sekolah(outdoor). Seperti
OutBond yang diselenggarakan di Kemala Beach dan Sekolah Alam. Kegiatan itu
bertujuan agar kita bisa menghadapi tantangan ketinggian dan agar kita lebih
dekat dengan alam. Banyak hal yang kami lakukan seperti Flying Fox, foto-foto,
bermain dan lain-lain.
Karena
sudah mendekati semester II, kita menyadari bahwa nanti kelas IX kita akan di
rolling kembali dengan kelas-kelas lain. Sebelum ulangan kenaikan kelas,
teman-teman dan Pa’ Natsir mengadakan rencana untuk berenang di Waterpark
Regency khusus VIII D. Banyak yang kita lakukan disana seperti berenang,
menikmati fasilitas yang ada di Waterpark, foto-foto dan lain-lain. Kebetulan
VIII D banyak juga yang gila foto, so, banyak moment yang kita abadikan selama
melakukan kegiatan apapun bersama. Bukan hanya murid-murid VIII D saja yang
ngelawak, tapi wali kelas nya juga ikut ngelawak. Jadi banyak hal-hal lucu yang
kita lakukan.
Setelah
ulangan untuk kenaikan kelas, setiap kelas umumnya mengadakan perpisahan di
kelas masing-masing. Kelas lain rata-rata hanya di Balikpapan. Berbeda dengan
VIII D, kita perpisahannya ke Tenggarong-Samarinda. Walaupun tempat yang kita
kunjungi disana biasa-biasa saja, tapi banyak hal yang berkesan yang kita
lakukan disana. Kita sudah merencanakan bahwa kita ke sana hanya ke
Planetarium, Kebun Raya Samarinda dan Mall Lembuswana. Dan kita kesana memakai
5 mobil pribadi, yang menyetir mobil Pa’ Natsir dan 4 wali murid lainnya. Seru
banget pada saat di perjalanan, entah ngelawak, ngedengerin lagu, nyanyi-nyanyi
dan lain-lain. Setiap murid VIII D dibagi ke dalam 5 mobil tersebut. Di dalam
mobil yang aku naiki, ada Pa’ Natsir, Indah, Ana, Halim, Ariska, Febrian,
Rizali dan Ekky. Zalfa dengan orang tua nya di mobil pribadinya, sedangkan
Agung berada di mobil yang mayoritas murid laki-laki semua. Di dalam mobil yang
aku tumpangi, ada 3 orang yang rusuh contohnya Halim, Rizali dan Febrian.
Sebenernya sih aku juga rusuh, tapi gak seberapa pas waktu itu. Wkwkwk.
Pertama
kita ke Tenggarong dulu, untuk ke Planetarium di dalam situ ada pelajaran
tentang planet gitu. Jadi kita lebih dekat dengan benda-benda langit. Sampe
sana sudah jam 12 siang. Setelah melihat benda-benda langit yang ada di
Planetarium, kita makan. Karena gak ada warung / tempat untuk makan, jadi kita
makan di parkiran Planetarium. Anehkan? Haha. Tapi gak peduli dengan tempat,
yang penting kebersamaan dan perutpun kenyang. Setelah dari Tenggarong, kita ke
Samarinda, tapi kita harus melewati Sungai atau apalah(gak tau namanya) memakai
perahu yang cukup besar tapi bukan feri. Perahu itu memang di khususkan untuk
transportasi Tenggarong-Samarinda. Karena di perahu itu pemandangannya cukup
nyaman. Kita foto-foto lagi. Setelah melewati sungai, kita langsung pergi ke
Kebun Raya Samarinda. Banyak hal yang kita lakukan disana seperti main perahu
angsa, bola besar diatas air, foto-foto,
melihat satwa unik disana, dan sebagainya.
Setelah dari Kebun Raya
Samarinda, kita berangkat ke Mall Lembuswana, untuk sekedar cuci mata aja. Yang
Aku,Cut,dan Elvira beli cukup Moccafloat doang di KFC Mall tersebut. Pa’ Natsir
membelikan anaknya mainan, yang lainnya cuci mata doang.
Setelah dari Mall, langsung
OTW(On The Way) ke Balikpapan. Karena sudah cukup kelelahan, Rizali, Febrian,
Ekky tertidur sebentar. Yang lain hanya diam sambil mendengar lagu-lagu galau
yang diputar Pa’ Natsir(Guru gaul begini
sudah). Sekitar jam 8, Pa’ Natsir ngomong sendiri entah ke siapa dia
ngomongnya “Biasa jam segini, Bapak makan loh di rumah.” Kata Pa’ Natsir. “Sama
eh pak, biasanya kalau begitu, kita stop di jalan untuk makan apa kek di warung
gitu pak” jawabku sambil bercanda. “Oyakah? Kita nanti stop di Tahu Sumedang
aja yok” balas Pa’ Natsir. Manusia-manusia yang tadinya tertidur langsung
bangun dan berkata dengan kompak “Wah, memang baik Pa’ Natsir ini. Bapak
mengerti kita banget pak”. “Denger makanan aja langsung bangun kalian,
otak-otak lu pada? Ckckck” kataku sambil tertawa. “Alah lu mau juga”kata
Febrian. “Iya juga sih” balasku sambil nyengir. Dengan sisa uang kas yang dikumpulkan
VIII D selama setahun, kita santai dulu di Tahu Sumedang. Dengan udara malam
yang sangat dingin, kita menikmati Tahu dan Teh Hangat. Pas banget tuh. Setelah
kenyang kita pulang ke rumah masing-masing dengan wajah yang memelas tapi hati
yang senang.
Benar
kata pepatah, dimana ada Pertemuan pasti ada Perpisahan. Setelah acara
perpisahan itu pada saat pembagian rapot, murid-murid VIII D dan kelas lain
naik ke kelas IX semua. Dan sekarang kelas VIII D terpisah ke kelas-kelas lain.
Mengingat VIII D rasanya langsung terputar kembali memori kebersamaan pada saat
di VIII D.
Selesai….

0 komentar:
Posting Komentar